analisamedan.com - Di tengah hamparan perbukitan tropis Sumatera Utara, suara alam berpadu dengan denting mesin tambang. Di sinilah Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources berdiri, membawa janji keberlanjutan lewat konsep Environmental, Social, and Governance (ESG). Namun, janji itu diuji: apakah eksploitasi emas bisa benar-benar berjalan beriring dengan konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati?
Bukan sekadar jargon, Martabe mengklaim telah menjalankan progressive rehabilitation—teknik pemulihan lahan bekas tambang yang dilakukan bersamaan dengan proses produksi. Lahan-lahan yang selesai digunakan ditanami kembali dengan vegetasi asli, dengan target mengembalikan fungsi hutan tropis dan habitat satwa endemik.
Sejak 2020, perusahaan meluncurkan Laporan Keanekaragaman Hayati yang merinci data flora-fauna di sekitar tambang hingga Juni 2024. Program revegetasi, pemetaan sosial-biodiversitas, hingga pemantauan rutin populasi burung, mamalia kecil, dan tumbuhan langka dilakukan secara berkala.
Meski begitu, tak semua pihak melihat cerita yang sama. Kelompok konservasi menyoroti risiko aktivitas tambang terhadap habitat Orangutan Tapanuli, salah satu spesies kera besar paling langka di dunia. Kritik ini bahkan pernah sampai ke ranah internasional, mendorong sebagian investor besar meninjau ulang dukungan mereka terhadap proyek tambang di kawasan Batangtoru.