analisamedan.com - Tahun Baru Islam 1 Muharam 1446 Hijriah baru saja masuk. Itu artinya, kita baru saja meninggalkan tahun 1445 Hijriah yang penuh dengan kenangan dan peristiwa. Namun perjalanan setahun terakhir harus menjadi evaluasi diri sebagai bekal dan pijakan refleksi agar masa mendatang bisa menapaki kehidupan penuh makna dan keberkahan.Tahun hijriah merupakan momentum awal kebangkitan Islam ditandai peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Kota Makkah menuju Madinah Almunawarah yang sebelumnya bernama 'Yastrib'. Dakwah di Makkah mengalami jalan panjang yang lambat penuh dengan rintangan yang justru menjadi penguatan mental umat Islam saat itu.Setelah terbentuk dengan situasi dan perlakuan selama di Makkah, maka hijrah menjadi jalan untuk mengembangkan Islam lebih efektif, dinamis dan strategis sehingga perkembangannya mengalami kemajuan luar biasa.Hijrah yang secara harfiah bermakna 'gerak' atau 'pindah' mengisyaratkan kita untuk melakukan sebuah tindakan menuju ke arah lebih baik yang fondasinya karena Allah, sebagaimana Nabi Muhammad Saw berhijrah pun karena ketaatan atas perintah-Nya : "Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Q.S.Albaqarah : 218)Titik KematianSalah satu refleksi penting dari telah masuknya kita ke dalam lingkungan Tahun Baru Islam 1446 Hijriah yakni, menelaah bahwa langkah kita dari detik menuju menit, menit menuju jam, jam menuju hari, hari menuju pekan, pekan menuju bulan, bulan menuju tahun, dan seterusnya, hakikatnya adalah semakin dekat dengan titik bernama 'kematian'.Bila langkah perjalanan seseorang mulai dari sebuah titik menuju titik tertentu, maka setiap langkahnya pasti akan mendekatkan dirinya ke titik yang dituju. Demikian pula dengan waktu kehidupan yang berjalan, akan sampai kepada titik tujuan, yakni kematian.Firman Allah Swt : "Setiap umat punya ajal (batas waktu). Apa bila telah sampai ajal mereka, maka tidak seorang pun bisa menunda sesaat pun atau mempercepatnya". (Q.S. Alaraf : 34)Kematian dalam perspektif Islam merupakan situasi yang memutuskan hubungan manusia dengan dunia. Peristiwa itu bukan hanya sekadar akhir kehidupan dunia, tapi momentum dimana terputusnya manusia dari kesempatan untuk menentukan kondisinya di alam Barzakh (kubur) dan Hari Kiamat.Nabi Muhammad Saw dalam hadisnya menegaskan, : "Ketika anak Adam mati, terputuslah amalnya. Kecuali 3 perkara yakni, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya," (Riwayat Muslim).