analisamedan.com - Maulana Malik Ibrahim. Waliyullah asal Magribia. Tapi wafat di Gresik, Jawa Timur. Dia mengabdi menyebarkan DIN Islam. Gresik dan sekitarnya jadi sasaran.
Kala itu, negeri Gresik, Tuban, Surabaya dan lainnya, tergolong pinggiran. Kekuasaan kerajaan Majapahit yang membahana. Maulana hadir di pantai Gresik, abad 14. Majapahit masih membahana. Hukum ala Majapahit yang mengatur dan memerintah. Tapi Maulana berhasil membuat komunitas muslim awal di wilayah Gresik dan sekitarnya. Pengajarannya tentang DIN Islam yang sempurna.
Banyak pengikutnya hingga terdengar Raja Prabu Brawijaya VII. Dia penguasa Majapahit kala itu. Sunan Gresik itu menetap di Desa Leran, 9 km dari Gresik. Dakwahnya menyebar lebar. Islam mulai tertata. Komunitas muslim hadir di tengah-tengah kedigdayaan Imperium Majapahit, yang tengah memudar. Tapi tempat menetap Maulana, masih dalam wilayah kekuasaan Majapahit.
Namun tak ada epos Sunan Gresik itu menjadikan Raja Majapahit sebagai 'Ulil Amri'. Tak ada kisah, Waliyullah itu menjadikan hukum Majapahit itu diadopsi menjadi syariat. Tapi Maulana tetap menegakkan syariat dan hakekat secara menyatu. Karena tak pernah Maulana Malik Ibrahim mengislamisasi hukum Majapahit. Tapi membawa syariat murni, agar bias diterapkan di Gresik dan sekitarnya. Khusus bagi penganutnya.
Walau mereka berada dalam fase transisi. Berada di antara hukum majapahit dan syariat. Maulana berusaha mengislamkan Raja Majaphit. Bukan sebaliknya. Mengislamisasi hukum Majapahit, agar seolah telah 'sesuai dengan Islam.' Tak ada dalih 'maqashid syariat' jadi alibi supaya hukum Majapahit itu bisa seolah-olah sudah dianggap sesuai dengan syariat.
Pun demikian dengan Sayyid Ali Rahmatullah. Dia juga berdakwah di wilayah Surabaya. Kala itu pinggirian Kerajaan Majapahit. Alkisah, beliau hadir di sana, selepas kekuasaan Raja Hayam Wuruk, raja mahsyur dari Majapahit. Shaykh Ali Rahmatullah, menetap di wilayah yang dikenal dengan Ampel. Makanya dia disebut Sunan Ampel. Beliau datang ke wilayah itu, atas undangan resmi kerajaan. Agar memberantas kemaksiatan yang merajalela di kerajaan Majapahit. Hukum-hukum dan ajaran Majapahit, tak mampu lagi melawan kemaksiatan.
Ratu Darawati, yang mengusulkan agar Sayyid Ali dihadirkan ke Majapahit. Dia sebelumnya menetap di Kerajaan Champa –Kamboja kini. Champa adalah sahabat dekat Majapahit. Sayyid Ali –Sunan Ampel—cucu langsung dari Raja Champa. Dia putera kedua dari pasangan Shaykh Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Chandrawulan. Shaykh Ibrahim, ulama asal Samarkhand. Negeri yang melahirkan banyak ulama besar. Shaykh Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Champa. Dia menikahi puteri sang raja. Maka Islam pun menjejak tenang di sana.
Sunan Ampel mendarat di bandar Tuban. Lalu menuju wilayah Surabaya. Disitulah dia menetap. Mengajarkan Islam ke sekitarnya. Masa itu, Islam belum tegak sempurna di Jawa. Tapi Sunan Ampel tak pernah mengangkat Raja Majapahit sebagai 'Ulil Amri.' Tak pernah pula menjadikan hukum yang hidup kala itu, hukum kerajaan Majapahit, yang dianggap sudah sesuai dengan Islam. Melainkan mereka hadir untuk memperjuangkan agar syariat bisa berlaku di tanah Jawa.
api jalannya bukan dengan peperangan. Melainkan melalui tassawuf, lembut hingga kemudian menghadirkan Islam rahmatan lil alamin. Waliyullah itu mengajarkan, Islam 'Rahmatan lil alamin' bukan bermakna yang mengislamisasi hokum kuffar. Melainkan dengan ajaran Islam, memberikan rahmat kepada seluruh alam. Era kini, 'rahmatan lil alamin' diputar balik arah. Seolah Islam boleh menganut hukum apa saja. Seolah syariat tak diperlukan, tapi cukup mengadopsi hukum ala Belanda. Para Wali terdahulu, tak pernah mengajarkan begitu. Karena Sunan Ampel tak pernah mengislamisasi hukum Majapahit. Tak pernah menganggap Raja Majapahit itu sebagai 'Ulil Amri' saat itu. Walau era itu, belum hadir kesultanan di tanah Jawa.
Seidem dito dengan Raden Paku. Dia trah dari Raja Majapahit. Tapi Raden Paku telah menjadi muslim. Dia bertugas sebagai muslim, menegakkan DIN Islam di wilayah Gresik dan sekitarnya. Meneruskan dakwah Maulana Malik Ibrahim. Raden Paku, walau dari ningrat Majapahit, tak memilih mengabdi pada Majapahit. Tapi sebagai muslim, beliau teguh mengabdi pada Islam.
Pesantrennya jadi ajang pembelajaran ilmu. Di utara Gresik itulah dia mendirikan sentral ajaran Islam. Murid-muridnya menyebar lebar. Ratusan muridnya yang telah menyatu, membuat Gresik menjadi wilayah Islam kecil. Makanya muncul Giri Kedaton. Ini semacam 'amirat' kecil saat itu. Sunan Giri, tak pernah menjadikan Raja Majapahit sebagai 'Ulil Amri.' Melainkan Giri Kedaton itulah ajang penegakan syariat dan hakekat di wilayahnya. Dia tak pula berstrategi untuk mengislamkan Majapahit dari dalam. Padahal dia seorang bangsawan.
Tapi Raden Paku mengikuti pola Sayidinna Rasulullah Shallahuallaihiwassalam. Membangun Madinah al Munawarah, di negeri Gresik. Jadilah Giri Kedaton itu sebagai wujud nyata. Amirat 'Giri Kedaton' menjadi jalan politik kekuasaan Islam agar bisa menegakkan syariat. Karena Raden Paku tak mengislamisasi hukum Majapahit, sebagai yang seolah telah sesuai dengan Islam. Itu bukan ajaran para Wali.
Serupa juga dengan Sunan Bonang. Raden Makdum. Walau dia seorang cucu Adipati Tuban, bak Bupati kerajaan Majapahit, Beliau anak dari Sunan Ampel. Karena Sunan Ampel menikah dengan anak angkat Adipati Tuban, Nyai Ageng Manila. Ayah dari Nyai Ageng adalah Ario Tedjo, Adipati Tuban. Tuban menjadi bagian dari Majapahit. Tapi Sunan Bonang tak mengambil jalan menjadikan 'Raja Majapahit' sebagai Ulil Amri Minkum. Mereka teguh berdakwah agar Islam bisa tegak sempurna di negeri Jawa.
Tak ada hikayat Sunan Bonang mengislamisasi hukum Majapahit, yang dianggap sudah sesuai syariat. Hanya perdebatan perihal wayang, yang sebagai jalan untuk bagian dari dakwah. Tapi perihal syariat, para Wali di Jawa, tak pernah berkompromi. Mereka tak mengajarkan agar hukum non syariat, kemudian diislamisasi.
Pun demikian dengan Sunan Syarif Hidayatullah. Sunan Gunung Jati. Dia di Jawa bagian barat. Di sana masih digdaya kerajaan Padjajaran. Sunan Gunung Jati, cucu dari Prabu Siliwangi, raja Padjajaran yang melegenda. Tapi tatkala beliau hadir di Cirebon, Sunan tak pernah menjadikan Prabu Siliwangi sebagai 'Ulil Amri.' Atau dia dan murid-muridnya harus tunduk dan menundukkan diri pada hukum Padjajaran. Tapi mereka membangun Kesultanan sendiri, sebagai basis tegaknya syariat dan hahekat. Itulah Kesultanan Cirebon awal.
Para Wali dulu di timur Jawa, mereka berhadapan dengan Majapahit. Tapi mereka tak tunduk dan menjadikan Majapahit sebagai Ulil Amri. Mereka tak pernah mengislamisasi hukum Majapahit. Para Wali justru berusaha menegakkan sultaniyya.
Hingga hadirnya Raden Fattah, anak dari Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Walau penerus tahta, tapu Raden Fattah tak memilih meneruskan trah Majapahit. Melainkan dia, sebagai muslim taat, bergabung dengan 'Ahlul Halli Wal Aqdi', para Wali Songo. Mereka mendidikan Kesultanan Demak. Inilah wujud kerajaan Islam kali pertama di negeri Jawa. Seiring dan sejaman dengan Kesultanan Cirebon.
Tapi pola hadirnya Kesultanan Demak, inilah jalan politik Islam yang ditunjukkan Wali Songo. Empat Wali Agung, berkoalisi mendiirikan Masjid Agung Demak, sebagai sentral pemerintahan Kesultanan. Empat sokoguru, tiang penyangga Masjid Agung, disumbangkan Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Syarif Hidayatullah dan lainnya. Itulah bukti Kesultanan Demak sebagai jalan menegakkan DIN Islam secara kaffah.
Wali Songo memberi wejangan, tatkala syariat belum hadir secara sempurna, maka bukan dengan mengislamisasi hukum Majapahit atau Padjajaran sebagai hukum yang dianggap sudah sesuai syariat. Melainkan syariat harus ditegakkan sebisa mungkin, mulai dari yang terkecil. Hingga kemudian melahirkan kekuatan besar. Itulah Kesultanan Demak.
Dari Demak inilah yang menjadi embrio tegaknya kejayaan Islam di tanah Jawa. Karena pasca Demak, kemudian melahirkan Kesultanan Pajang, hingga diteruskan Kesultanan Mataram yang agung. Kesultanan Mataram inilah yang menjadi era kejayaan Islam di negeri Jawa dan sekitarnya. Demikianlah pola politik Islam dijalankan.
Demak menjadi ajang mewujudkan Madinah al Munawarah. Tatanan Madinah, ditiru dan diamalkan di tanah Jawa. Seorang Sultan diangkat sebagai Ulil Amri Minkum. Bukan menjadikan raja Majapahit atau Padjajaran sebagai Ulil Amri. Tapi menghadirkannya, hingga bisa tercapat sempurna.
Jadi, para Wali tak sekedar berepos perihal 'telur bisa terbang' atau bagaimana bisa jalan di atas air. Melainkan memberikan peninggalan besar tentang politik Islam dijalankan. Karena tak ada satupun Wali, yang masa hidupnya cawe-cawe di kerajaan Majapahit atau Padjajaran, agar mengambil jalan mengislamisasi dari dalam.
Mereka berada di luar lingkaran kerajaan Majapahit, untuk menghadirkan yang Haq. Kesultanan Demak itulah wujud nyata dakwah Wali Songo. Demak itulah jalan politik para Wali. Dari situlah, kejayaan Islam akan kembali. Itulah yang disebut 'sultaniyya.'