Ketika Menjaga Wudu Lebih Penting daripada Menjaga Air

Membaca Green Ecotheology dan Civilization Manusia Abad Modern di Tengah Krisis Bumi
Gustan Pasaribu
analisamedan/dok
ilustrasi

analisamedan.com -Ada paradoks yang lebih menggelitik daripada sekadar perdebatan tentang perubahan iklim: kita bisa sangat khusyuk menjaga kesucian diri, tetapi abai terhadap kesucian bumi tempat kesucian itu dipraktikkan. Kita berbicara tentang wudu, tetapi tidak selalu peduli dari mana air wudu berasal dan ke mana limbahnya mengalir. Kita mengajarkan amanah Tuhan, tetapi membiarkan sungai menjadi tempat pembuangan. Kita menyerukan kesederhanaan di mimbar, sementara gaya hidup konsumtif terus dirayakan di luar rumah ibadah.

Di titik inilah buku Dr. H. Jamiluddin Marpaung, M.A., Green Ecotheology dan Civilization Manusia Abad Modern: Telaah Ekologi Berbasis Teologi untuk Krisis Lingkungan Global, menemukan relevansinya.

Buku setebal 381 halaman ini tidak sekadar menambahkan isu lingkungan ke dalam tema keagamaan. Ia mengajukan tesis yang lebih mendasar: krisis ekologis juga merupakan krisis cara pandang manusia terhadap Tuhan, dirinya sendiri, dan alam. Karena itu, penyelamatan bumi tidak cukup diserahkan kepada teknologi, ekonomi, atau kebijakan; ia juga membutuhkan perubahan moral dan spiritual.

Namun, justru di sinilah buku ini perlu dibaca secara kritis. Jika agama telah lama memiliki ajaran tentang amanah manusia dan kewajiban menjaga ciptaan, mengapa ajaran itu belum otomatis melahirkan perilaku ekologis yang memadai?


Halaman :

Warning: Undefined variable $max_pages in /home/u7391150/public_html/analisamedan.com/amp/detail.php on line 267
Penulis
: gustan
Editor
: gustan

Tag:

Berita Terkait