analisamedan.com -Di sebuah ruang gawat darurat rumah sakit kabupaten, seorang bocah berusia sembilan tahun meringis menahan sakit. Tubuhnya lemas, perutnya kembung, dan muntah belum juga reda. Ibunya panik, menggenggam tangan kecil itu sambil terus bertanya kepada dokter: "Kenapa bisa begini? Bukankah makan siang di sekolah seharusnya sehat?"
Adegan memilukan ini bukan sekali dua kali terjadi. Sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan pemerintah, kasus keracunan massal mencuat dari berbagai daerah. Dari Cipongkor, Bandung Barat, hingga sejumlah kabupaten lain di Sumatera, ratusan anak sekolah terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah menyantap nasi kotak atau lauk pauk yang dibagikan melalui program tersebut.
Pemerintah berusaha menenangkan publik. Presiden menyebut keracunan hanya "0,00017 persen" dari total penerima MBG. Secara hitungan, benar: dari puluhan juta porsi yang disalurkan, hanya ribuan yang bermasalah. Namun, bagi keluarga yang anaknya tergolek di ranjang rumah sakit, angka persentase itu tidak lebih dari sekadar statistik dingin. "Trauma anak tidak bisa dihitung dengan persen," kata seorang psikolog anak di Medan, mengingatkan bahwa pengalaman buruk semacam itu bisa menimbulkan ketakutan berulang.