analisamedan.com -Tak ada yang benar-benar tahu jalan takdir, kecuali mereka yang setia menunggu dengan sabar. Seperti itulah kisah Marni binti Poksum, perempuan 68 tahun yang akhirnya menginjakkan kaki di Asrama Haji Medan, Selasa (20/5/2025), untuk memulai perjalanan suci ke Baitullah.
Nek Marni, begitu ia biasa disapa, bukanlah tokoh besar atau pemilik usaha sukses. Ia hanya penjual serabi keliling dari Kota Tebing Tinggi yang telah menapaki kerasnya kehidupan selama lebih dari dua dekade. Setiap pagi, ia menyusun harapan di atas wajan, menata keyakinan di atas loyang, lalu mengayuh semangat menjajakan serabi dari satu sudut kota ke sudut lain.
"Pernah jual mie sop, lemang, lalu beralih ke serabi. Sedikit demi sedikit ditabung dari hasil jualan. Anak-anak juga bantu," tutur Nek Marni dengan suara pelan namun penuh keteguhan.
Keinginannya untuk berhaji tumbuh sejak lama. Tahun 2012, ia mendaftar bersama anaknya, Agus Suhendra. Sejak saat itu, penantian panjang dimulai. Tahun lalu, ia sempat berada di ambang keberangkatan. Namun, takdir berkata lain. Namanya tak masuk dalam daftar akhir.