analisamedan.com -PT Panin Sekuritas (PANS) menilai bahwa ketidakpastian berakhirnya konflik di Timur Tengah masih tinggi. Hal ini mendorong volatilitas harga minyak, dan sentimen pasar keuangan global turut mempersempit ruang pelonggaran suku bunga, seiring mayoritas bank sentral utama mempertahankan suku bunga acuannya pada April 2026 dengan sinyal yang cenderung hawkish.
"Tekanan harga minyak yang masih tinggi mulai berdampak pada perekonomian domestik, tercermin dari kontraksi sektor manufaktur dengan PMI April 2026 turun ke 49,1 sebelumnya 50,1," ungkap Business Development PANS Cabang Medan, Darmin, S.E., MBA, Kamis, 7 Mei 2026.
Meski tekanan harga minyak masih tinggi, lanjut Darmin, portofolio bulanan PANS kembali mampu mengalahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar +5,7% pada bulan sebelumnya (MoM) di April 2026, di mana IHSG turun -1,3% MoM, dengan geometric return di +4,55% (IHSG: -19,5%). Untuk periode Mei 2026, PANS merekomendasikan: MEDC, TINS, AMMN, RAJA, DSNG, BBRI, JPFA.
Bila melihat rilis data terbaru, inflasi inti PCE per Maret 2026 tercatat meningkat ke +3,2% YoY sebelumnya +3,1%, sementara pasar tenaga kerja menunjukkan pemulihan dengan kenaikan non-farm payroll sebesar 178 ribu pekerjaan pada Maret 2026. Ini merupakan angka tertinggi sejak Desember 2024.
Di sisi lain, pasar juga mulai mencermati risiko fiskal Amerika Serikat (AS), dengan rasio utang pemerintah federal AS yang telah melampaui 100% dari PDB, yakni USD 31,27 triliun, akibat defisit struktural.
Dalam jangka menengah, jelas Darmin, kondisi ini berpotensi menggeser persepsi investor, di mana apabila episode risk-off mereda, USD dapat kembali berada dalam tren pelemahan seiring meningkatnya perhatian terhadap risiko fundamental AS.
Meski demikian, tekanan terhadap harga konsumen sejauh ini relatif terbatas, seiring perusahaan yang masih menahan kenaikan harga jual dengan mengorbankan margin, serta peran fiskal pemerintah dalam meredam dampak melalui subsidi energi.
Di sisi fiskal, upaya pemerintah menahan dampak kenaikan harga energi melalui peningkatan subsidi terjadi di tengah kenaikan beban bunga utang, yang secara keseluruhan memperberat persepsi risiko fiskal. Tekanan ini tercermin di pasar keuangan, dengan rupiah melemah ke Rp17.310/USD.
Dari sisi pasar obligasi, kurva yield SBN menunjukkan pola bearish flattening yang mengindikasikan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka pendek serta tekanan inflasi yang meningkat. Meski demikian, perlu dicermati bahwa dinamika tersebut juga dipengaruhi oleh peran aktif Bank Indonesia dalam menahan kenaikan yield tenor panjang.
"BI sendiri kembali mempertahankan suku bunga di level 4,75% pada April 2026, menegaskan fokus pada stabilitas nilai tukar dan inflasi," jelas Darmin.
IHSG tercatat melemah pada April 2026 sebesar -1,3% MoM. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor: pertama, masih tingginya tensi geopolitik yang mengakibatkan kenaikan harga minyak; kedua, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat untuk menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah; serta ketiga, kekhawatiran dalam negeri terkait review MSCI, potensi penurunan rating obligasi Indonesia, serta melemahnya nilai tukar rupiah.
Hal ini juga diperparah dengan koreksi pada saham konglomerasi seiring regulasi penyesuaian free float bertahap, dengan target 12,5% pada April 2027.
Sektor yang tercatat positif adalah IDXTRANS sebesar +19,4% MoM, karena masih ditutupnya Selat Hormuz yang berdampak terhadap terjebaknya beberapa kapal, baik tanker maupun kontainer, sehingga mengakibatkan kenaikan tarif kapal. Sementara itu, IDXINDUS juga naik signifikan sebesar +14,7% MoM, didorong oleh saham BNBR yang naik hampir dua kali lipat, seiring dengan transformasi bisnis perseroan.
Patut dicermati, IDXHLTH turun -5,2% MoM seiring kekhawatiran bahwa defisit yang melebar akan berdampak pada belanja kesehatan serta cash flow JKN.
Untuk Mei 2026, PANS merekomendasikan sektor komoditas, seiring terbatasnya pasokan akibat penutupan Selat Hormuz, dipangkasnya RKAB, serta komoditas sebagai lindung nilai (hedging) terhadap inflasi. Sektor energy-related juga direkomendasikan karena harga minyak diperkirakan masih tinggi, seiring turunnya inventori minyak di beberapa negara serta meningkatnya permintaan energi alternatif seperti batu bara, CPO (B50), dan energi baru. Selain itu, sektor poultry juga menarik karena harga broiler dan DOC relatif stabil, didorong oleh MBG serta tren ekspansi ke segmen downstream.
Sektor yang diperkirakan masih akan tertekan adalah sektor konglomerasi, khususnya dengan free float