analisamedan.com -Sejumlah anak muda lingkar tambang mengelola peternakan Martabe Goat Farm dan Martabe Chicken Farm di Desa Napa, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara, Kamis (21/5/2026).Naungan PT Agincourt Resources (PTAR) tersebut berfokus pada peranakan kambing dan ayam petelur untuk memenuhi kebutuhan daging kambing dan telur ayam di Kecamatan Batangtoru.Di lahan seluas 1,5 ha tersebut, para anak muda memulai aktifitas mulai dari pemberian pakan, perawatan kandang, pengecekan kesehatan hewan hingga pengelolaan keuangan.Program Martabe Social Enterprise meliputi ternak kambing dan ayam petelur. Selain itu, unit usaha program ini berupa budidaya dan pengolahan cokelat.Yandi Krisna, Superintendent - Local Economic Development Agincourt Resources memaparkan pendirian Martabe Goat Farm karena minimnya sumber-sumber daging kambing dan daging hewani lainnya di Batangtoru, yang banyak didatangkan dari luar daerah.PTAR kemudian mendorong anak-anak muda lingkar tambang untuk dibina dalam mengelola ternak kambing dan ayam petelur. Jenis kambing yang dipilih merupakan kambing boerka, persilangan kambing boer dan kambing kacang."(Kambing) boerka ini pedaging. Kalau dibandingkan dengan kambing lokal, boerka ini bisa dua sampai tiga kali lipat dagingnya. Daging dan karkasnya padat," katanya menjelaskan pemilihan jenis kambing.Di awal program ini, kata Yandi, pengadaan kambing boerka ini baru 80 ekor betina dan 8 ekor pejantan, merupakan pilihan atau bibit unggul. Dan dari jumlah ini kemudian dikembangbiakkan, sehingga anakannya nanti yang akan diperjualbelikan oleh unit usaha ini."Dengan jumlah ini, kami masih mengandalkan pakan hijau dari area sekitar tambang," tambahnya.Sementara itu, Indra Pandiangan Saputra Supervisor Martabe Goat Farm mengatakan, dalam waktu lima bulan peternakan ini telah menghasilkan 11 anakan. Namun, jumlah ini belum dikomersialkan hingga dua tahun ke depan."Menunggu anak-anakan lain, sampai dua tahun nanti. Sehingga ada kesinambungan dan berkelanjutan, bibit baru lahir dan anakan ini telah menjadi indukan, di situ kita baru bisa menjualnya," ungkapnya.Di lahan yang sama, ada kandang Martabe Chicken Farm yang telah membudidayakan 1.200 ekor ayam petelur. Dipimpin Habib, sebagai supervisor. Peternak ini telah memproduksi rata-rata 1.100 butir telur per hari."Sudah jalan 3 minggu produksinya. Usia ayam ini produksi saat 21 minggu," jelas Habib.Yandi Krisna menambahkan, jika kebutuhan telur di Tapanuli Selatan masih ditutupi dari daerah lain. Dan, ternak ayam petelur di daerah umumnya punya hambatan pada proses pengadaan pakan.Dalam mengatasi itu, PTAR telah membuat konsep yang membawa Martabe Chicken Farm berkontrak dengan petani-petani jagung, namun dengan harga yang sesuai peraturan kementerian pertanian."Agar petani jagung juga tidak dipermainkan tengkulak-tengkulak. Kalau sebelum bencana kemarin sudah ada 20 hektar dengan 43 petani, Qodarullah, 20 hektar itu terdampak banjir," kata Yandi.Martabe Goat Farm sendiri kata Yandi, sudah mulai menutupi biaya operasionalnya sendiri. Dengan produksi 1.100 butir per hari, telur milik unit usaha ini telah terjual langsung, dan telah dipesan hingga produksi beberapa ke depan "Tahun ini akan ditambah lagi 600 ekor, karena kapasitas kandang itu 2.000 ekor. Dan akan ada penambahan kandang 2.000 ekor lagi, di tahun ini juga," ucapnya.Targetnya, Martabe Chicken Farm bakal memproduksi hingga 10.000 butir telur per hari, sehingga surplus produksi ini akan menutupi kebutuhan telur di Tapanuli Selatan. Termasuk kebutuhan daging yang telah diusahakan Martabe Goat Farm.