analisamedan.com -Hujan deras di Selasa (25/11/2025) siang lalu, orang-orang dari desa tetangga dengan tampilan kotor dan basah, berlarian dan berkumpul ke Desa Batuhula, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Mereka baru saja selamat dari keganasan
banjir bandang sungai Aek Garoga.Itu diceritakan Kepala Desa Batuhula, Muhammad Alinafiah Nasution yang membuka
posko pengungsian dan dapur umum di desanya. Bersama-sama warganya, mereka menampung 1.800 warga Garoga, Huta Godang dan Aek Ngadol, tiga desa yang terdampak
banjir pada dua pekan silam.Desa Batuhula bertetangga dengan Aek Ngadol, Huta Godang, dan paling ujung Desa Garoga. Posisinya lebih tinggi. Desa-desa ini berada di sepanjang jalan lintas Padangsidimpuan-Sibolga. Dan juga diapit aliran sungai Garoga, sungai yang menjadi batas alam wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah.Pada saat
banjir bandang terjadi, daya rusak air pada permukiman sampai di batas Aek Ngadol dengan Batuhula. Selain korban jiwa, banyak warga di tiga desa ini harus kehilangan tempat tinggal dan usaha."Hujan masih deras-derasnya, masyarakat dari sana berlarian, berkumpul, katanya terjadi
banjir besar. Ada yang menangis, basah semua, berlumpur. Warga saya pun berdatangan. Kami merasa kasihan, karna di sana ada lansia, ibu-ibu yang menggendong bayi, basah-basah," ungkap M Alinafiah saat diwawancarai di
posko pengungsian Batu Hula.Kades bersama warganya pun kemudian menyarankan agar berteduh sementara ke gedung SD di desa itu. Namun, para penyintas
banjir itu bergeming. Karena dataran sekolah itu lebih rendah dari badan jalan. Mereka takut, air besar yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya, akan mencapai sekolah itu."Kami akhirnya berinisiatif mendirikan teratak, supaya ada tempat berteduh. Karena mereka kedinginan, kami bawa alat masak perwiridan dari masjid, supaya bisa memasak air, agar warga tetangga ini bisa menghangatkan diri, semua masyarakat berdatangan, sukarela membantu," katanya.Seiring surutnya air. Penyintas pun semakin banyak berdatangan. Camat Batangtoru pun menyepakati agar lokasi yang merupakan halaman bengkel milik Safri Simamora ini dijadikan
posko pengungsi. PTAR, perusahaan pengelola tambang emas Batangtoru juga segera mendirikan tenda, menyediakan alat masak, serta kebutuhan pangan para pengungsi.Sebagian pengungsi diinapkan di tiap-tiap rumah warga Batuhula, juga gedung sekolah. Dan lokasi awal pengungsian ini juga menjadi dapur umum, yang dijalankan 115 warga desa Batuhula. Menyediakan makan pagi, siang dan malam bagi seluruh pengungsi.Posko Kesehatan milik TNI juga sudah berdiri di sana, memberikan pemeriksaan kesehatan bagi pengungsi. Hingga hari ini, pengungsi yang kehilangan seluruh rumahnya masih bertahan di sini.Lain lagi di Posko Pengungsian Desa Sumuran, Kecamatan Batangtoru. Saat kejadian
banjir bandang, para masyarakat bergerak cepat mengarahkan para korban terdampak
banjir untuk tinggal sementara di sejumlah rumah-rumah warga. "Mengingat tidak tertampungnya di Posko Batu Hula, kami arahkan masyarakat untuk tinggal sementara waktu di Desa Sumuran," jelas Sarman, Kepala Desa Sumuran.Di Desa itu, pihaknya menyiapkan kebutuhan sekali makan sebanyak 800 bungkus. Dan bahan pokok untuk para pengungsi turut dibantu Perusahaan Agincourt Resources."Bahan pokoknya dibantu perusahaan tambang emas. Kalau untuk relawannya itu warga kami. Jumlahnya sekali makan sekitar 800 bungkus," ucapnya.Di Desa Sumuran, kata dia, hanya terdampak lahan pertanian dan perkebunan."Lahan pertanian dan perkebunan di Desa Sumuran hampir 70 persen terdampak," ungkapnya.