analisamedan.com -Para petani di Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, mengalami kerugian hingga Rp115 Miliar. Akibat saluran irigasi DI Ujung Gurap di Kecamatan Batunadua tidak kunjung diperbaiki pemerintah, Jum'at (04/09/2026).Dimana lahan persawahan masyarakat di 7 Desa dan 2 Kelurahan di Kota Padangsidimpuan terkendela, karena rusaknya saluran irigasi DI Ujung Gurap di Kecamatan Batunadua.Ribuan petani menjerit dan hanya mendapatkan janji manis dari Pemerintah Kota Padangsidimpuan dan Provinsi Sumatera Utara. Irigasi yang rusak 4 tahun belakangan ini berdampak pada lahan persawahan seperti kekeringan, lahan terbengkalai hingga gagal panen. Para petani juga mengamali kerugian hingga Seratus Miliar Rupiah.Mulanya, kerusakan saluran Irigasi DI Ujung Gurap yang berada di Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua mengalami longsor dan menimpa saluran irigasi DI Ujung Gurap.Setelah diterjang longsor, sebanyak 9 desa/kelurahan dengan persentase lahan mencapai 400 hektar tiba-tiba terhenti di tahun 2023. Para warga yang bekerja sebagai petani pun bereaksi, mereka bergerak melakukan gotong royong dengan menggunakan peralatan seadanya untuk memperbaiki irigasi yang mengalami kerusakan tersebut."Di tahun 2023, kami sudah gotong royong memperbaiki saluran irigasi ini, tapi longsoran terus terjadi," ungkap Akhirul Nasution, Petani Desa Ujung Gurap.Pasokan air dari saluran DI Ujung Gurap dipergunakan untuk pengairan sawah warga dan untuk kebutuhan air di sejumlah masjid di Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua."Kebutuhan air ini untuk persawahan dan mengalir ke beberapa masjid. Kamar mandi Masjid pun ikut menjadi terdampak," jelasnya.Akhirul Nasution mengaku, lahan persawahan miliknya terpaksa dialihkan untuk menanam tanaman holtikultura."Puluhan tahun kami hidup dari hasil persawahan. Namun, selama irigasi rusak terpaksa mencari cara untuk terus mendapatkan penghasilan, dengan mengolah lahan dan menanam holtikultura dan juga kacang-kacangan," ucapnya.Sebelum irigasi rusak, dalam jangka setahun dengan dua kali masa panen mendapatkan hasil 7 ton."Setiap musim panen, bisa menghasilkan 3,5 ton dengan lahan seluas setengah hektar (tiga lungguk). Setahun bisa dua kali masa panen, sedikitnya 7 ton dalam setahun. Dan selama irigasi rusak, kami mengalami kerugian. Lahan persawahan di sini beralihfungsi," jelasnya.Dari 400 hektar luas lahan persawahan yang menjadi terdampak, para petani mengalami kerugian hingga Rp115 Miliar. Rinciannya, setiap satu hektarnya menghasilkan padi/gabah senilai 6 ton."6 ton per satu hektar. Jadi, 6 di kali dengan 400, totalnya 2.400 ton setara dengan 2,4 juta kilogram. Kalau harga gabah per kilo 6 ribu, totalnya mencapai Rp14,4 Miliar. Ini untuk satu kali masa panen. Dan kami sudah mengalami rugi selama 8 kali masa panen, total kerugiannya sebanyak Rp115 Miliar," kata Akhirul Nasution.