analisamedan.com -Perkembangan tempat Nongkrong dan Coffe Shop di Kota Padangsidimpuan grafiknya cukup signifikan, untuk pusat kota saja berjejer rapi disepanjang jalan.Terlihat dihampir semua kafe dipenuhi anak muda hingga orang tua yang menikmati suasana dan sajian berupa kopi maupun makanan modren.Fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku konsumsi yang tidak lagi semata-mata didasarkan pada kebutuhan, tetapi juga dipengaruhi faktor sosial, psikologis, dan tren. Sebab coffe shop menawarkan kenyamanan, sekaligus simbol gaya hidup modern yang membuat merasa lebih produktif dan terhubung dengan lingkungan sekitarnya.Sisi PositifPertumbuhan ini jelas akan memberikan dampak ekonomi seperti membuka lapangan pekerjaan yang turut membantu menurunkan angka pengangguran terbuka di Kota Padangsidimpuan yang masih terbilang tinggi yakni 7,10 persen.Penurunan tingkat pengangguran ini khususnya bagi anak muda. Mulai dari barista, staf layanan, hingga pengelola media sosial, sektor ini memberi ruang bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam dunia usaha dan industri kreatif.Dan juga fenomena ini meningkatkan ekonomi kreatif yang turut mendorong pertumbuhan UMKM.Sisi NegatifDengan meningkatnya pertumbuhan ini tentu harus didukung oleh pemerintah dari sektor keamanan dan perlindungan dari persaingan yang tidak sehat.Selain itu juga harus berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) seperti pajak Makanan dan Minuman (PBJT) umumnya 10% dari total tagihan.
Namun angka pendapatan dari sektor restoran dan kefe masih stagnan tanpa lompatan tak sesuai dengan menjamurnya industri coffee shop.
Serta retribusi parkir juga harus mengalami peningkatan dari kehadiran tren coffee shop apalagi tahun 2026 ini.Pertanyaannya hingga saat ini masyarakat belum bisa mengakses secara online berapa penambahan PAD dari sektor tersebut dan terkesan konsumen hanya berhak bayar tapi tidak boleh tahu apakah sampai ke kas daerah.. mmmmmm